Aksi Nyata Pembelajaran Sosial dan Emosional di SMA Negeri 2 Ngawi

0
10015

SMADANGAWI – Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional ini menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa – Perasaan – Pembelajaran – Penerapan).

Aksi Nyata dalam modul ini mensyaratkan Calon Guru Penggerak (CGP) untuk membagikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran sosial emosional yang telah CGP lakukan selama ini. Aksi nyata ini dapat dikatakan sebagai kegiatan berbagi implementasi CGP kepada rekan sejawat atau komunitas, dengan merefleksikan pengalaman tersebut dengan menggunakan kerangka 4P (Peristiwa – Perasaan – Pembelajaran – Penerapan).

Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?

Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut.

Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?

Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?

Facts (Peristiwa): Dalam modul-modul sebelumnya tetap menggunakan alur belajar dalam pendidikan guru penggerak dengan akronim MERDEKA, terdiri dari langkah-langkah: Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata.

Setelah alur belajar ini sampai pada Aksi Nyata, diawali dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar (Ma) dengan menggunakan Strategi Integrasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional di kelas. Praktik baik dalam kegiatan pembelajaran di kelas diterapkan satu kelas terlebih dahulu dan secara bertahap pada kelas lainnya. Dalam aksi nyata sebelumnya CGP sudah melakukan praktik baik penerapan pembelajaran berdiferensiasi.

Ternyata pembelajaran ini sangat penting dan berguna, bukan hanya bagi guru dan murid, tetapi juga bagi komunitas sekolah. Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif bagi seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi sebenarnya memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

PSE berbasis kesadaran penuh (mindfulness) dan well-being sebagai kondisi sejahtera yang mencakup emosi dan suasana hati yang positif, misalnya, kepuasan, kebahagiaan, tidak adanya emosi negatif, misalnya, stress, depresi, kegelisahan. Well-being merupakan latihan kesadaran penuh dalam kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Dalam PSE melahirkan 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yaitu; Kesadaran diri, Pengelolaan diri, Kesadaran sosial, Keterampilan relasi, dan Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab.

Hal baik yang diperoleh dalam penerapan strategi Pembelajaran Sosial Emosional berbasis kesadaran penuh dan kondisi nyaman sehat dan bahagia (mindfulness and well being) di kelas sangat menarik dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Penulis selalu berharap dalam menghadapi murid di kelas dalam bentuk ragam rupa, warna seragam, potensi, bakat, dan hobi.

Penulis mencoba mempraktikkan latihan dengan berkesadaran penuh (mindfulness) yaitu STOP (Stop – Berhenti, Take a deep breath – Tarik napas dalam, Observe – Amati, Proceed – Lanjutkan). Teknik yang paling sederhana untuk berlatih membangun kesadaran penuh (mindfulness), meredakan ketegangan, mengembalikan dan membangun fokus murid.

Feelings (Perasaan): Penulis merasakan ada kebiasaan yang berubah dalam penerapan kegiatan pembelajaran sosial dan emosional di kelas. Merubah kebiasaan dapat dilakukan secara bertahap. Pembelajaran yang sebelumnya hanya fokus pada materi akademik saja kadangkala mengesampingkan pemahaman emosi dan perasaan diri murid dalam mengikuti pembelajaran. Situasi kelas yang belum terkelola seperti apa yang diharapkan dalam pembelajaran berdiferensiasi serta pembelajaran sosial emosional belum begitu ideal dan optimal maksimal untuk diterapkan. Memang memerlukan waktu dan kondisi kelas yang terkelola secara kolaborasi oleh seluruh warga sekolah.

Mengawali pembelajaran dengan sosialisasi semua murid tentang kesepakatan dan keyakinan kelas dalam penanaman dan penerapan budaya positif di kelas. Melibatkan murid dalan menyepakati dan memberi pendapat dalam menentukan keyakinan kelas dalam pembelajaran di kelas.

Waktu pembelajaran di kelas perlu juga diberikan ice breaking agar mencairkan suasana kelas dan pengelolaan kelas yang lebih menarik. Dengan PSE membuat penulis lebih nyaman dan selalu berupaya menerapkan PSE berkesadaran penuh dan well-being dengan membuahkan harapan dan hasil yang menggembirakan.

Findings (Pembelajaran): Penerapan PSE di kelas dapat mengendalikan emosi (kesadaran diri), penulis banyak berintrospeksi diri memahami kekuatan dan kelemahan diri, penulis harus banyak belajar dan membangun kepercayaan diri. Bagaimana mengelola rasa senang, kecewa, marah pada murid dengan perilaku yang berbeda-beda (manajemen diri). Penulis memahami betul terdapat perbedaan di antara murid-murid, selalu mencoba berempati dan menghargai perbedaan itu (kesadaran sosial).

Penulis menjumpai murid yang selalu datang terlambat pada jam pertama maka penulis melibatkan kerjasama wali kelas dan bantuan guru bimbingan konseling dalam mengatasi murid tersebut (keterampilan relasi). PSE yang sudah diterapkan dan dilaksanakan pada murid seperti kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan keterampilan berelasi sebagai suatu kebiasaan di sekolah adalah berdoa sebelum belajar, memberikan ucapan salam, disiplin tertib waktu, berdiskusi saling memberi pendapat dan tanggapan, piket kebersihan kelas, pemilihan ketua OSIS dalam menghargai hak suara, tanggungjawab dalam kegiatan ekskul.

Future (Penerapan): Penerapan PSE dengan teknik Rutin, Terintegrasi dalam Mata Pelajaran, dan Protokol. PSE Rutin dengan melakukan penerapan PSE yang terjadwal, misalnya kegiatan rutin yang dilakukan di sekolah seperti kegiatan berdoa sebelum dan setelah belajar, atau ketua melapor kehadiran siswa di kelas.

PSE Terintegrasi mata pelajaran dapat dilakukan di sela-sela penyampaian materi, misalnya dengan diskusi kasus atau diskusi penyelesaian masalah secara berkelompok, penguatan profil pelajar Pancasila dalam gaya hidup berkelanjutan dengan produk pengelolaan sampah di lingkungan sekolah menjadi produk yang berguna seperti tempat sampah, pupuk cair, perkakas alat tulis.

PSE Protokol menjadi kegiatan sekolah yang sudah menjadi sebuah tata tertib dan kebijakan sekolah dilakukan secara mandiri oleh peserta didik, misalnya protokol pembiasaan gerakan seribu hari Jum’at, protokol piket kelas dengan mengajak semua murid berkolaborasi melaksanakan piket umum siswa dapat menumbuhkan budaya gotong royong dan menjaga kebersihan lingkungan kelas sekolah, protokol piket guru dalam membantu memberikan kelancaran dalam proses belajar mengajar, mendisiplinkan murid serta menciptakan kelancaran dalam mengawasi proses pendidikan di lingkungan sekolah.

____
Penulis: Zaenal Abidin
CGP Angkatan 7

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four − 1 =